Thursday, May 26, 2016

Meltzch Re-OPEN-ing! Yay!



Alhamdulillah, MELTZCH buka kembali. Yay!

Kali ini dengan konsep baru, Meltzch menyediakan produk-produk natural dan organik untuk memenuhi kebutuhan akan gaya hidup yang sehat.

Yah... udah ga terima order cake sama cookies lagi ya, Mbak?

Hehe, sebagian pemirsa tampaknya ada yang kecewa karena mengira Meltzch produksi lagi. Belum, sebetulnya belum buka lagi, suatu saat mudah-mudahan ya. Saat ini dengan kondisi harus memprioritaskan pendidikan dan pendampingan anak-anak yang masih balita, maka pilihan ini yang paling realistis supaya Meltzch bisa buka lagi. Impian saya bisa ditunda, anak-anak terus bertumbuh tidak bisa ditunda :)

Yang sudah kangen berad cakes sama cookies Meltzch bisa juga loh mempraktekkan resep-resep simpel dan amat sangat mudah, yang juga sudah saya karyakan dalam bentuk blog di www.meltzch.com/resep. Nah, bahan-bahannya bisa didapat di webstore-nya Meltzch ya : www.meltzch.com.



Semoga Meltzch tetap bisa memberikan kontribusi. Semoga Allah ridhoi, berkahi.


Note. Blog dan webstore cakep-nya Meltzch semaunya didesain dan digarap oleh developer web kesayangan Kaveea.com.

Saturday, May 14, 2016

Our Book : Buku Ibu Sang Manusia Pembelajar



Masya Allah.
Sudah kira-kira 1 tahun buku karya kami ini terbit, tetapi mendadak berapa waktu lalu saya mendapat pesanan lumayan banyak. Biasanya order harus transfer beberapa ratus ribu, ini harus transfer diatas 1 juta.
Ah, semoga membawa manfaat, membuka pintu kebaikan, hanya itu harapan kami.

Berawal dari hobi kami yang sama-sama suka menulis, sama-sama suka berbagi di grup Facebook alumni emak-emak Psikologi UGM "Psikogama Motherhood". Kemudian tercetuslah ide untuk membukukan pengalaman-pengalaman kami sebagai Ibu baru, akhirnya koordinasi dilakukan supaya jadi kumpulan tulisan dan terbitlah buku ini. Semua prosesnya kami garap online, kami hanya berkoordinasi lewat dunia maya. Ada yang dari Semarang, Jogja, Jakarta, Kalimantan... Masya Allah ternyata bisa membuahkan sesuatu. Yah, lagi-lagi tulisan kami (saya terutama) masih jauh dari sempurna tetapi semoga bisa memberi inspirasi bagi para Ibu dan calon Ibu untuk terus menjadi manusia-manusia pembelajar.

Untuk yang ingin baca sedikit bagian dari novelnya, sample bisa dibaca disini .

Untuk order, bisahubungi langsung ke saya via Whatsapp 0819 4910 6555.

Friday, February 19, 2016

Me-Time for Me is…


Bismillah.

Me-Time itu sesuatu banged ya buat emak2 rempong.

Di saat seperti ini dimana para pria2 ganteng finally tidur lelap, saya baru bisa me-time.

Sempat beredar postingan di FB yg intinya si emak2 ini protes karena ada pihak yg beranggapan emak2 jaman sekarang ini kok masih minta me-time, emak2 jaman dulu aja anaknya banyak ga ribut me-time. Hehehe saya senyum2 sendiri bacanya.

Kalo buat saya sendiri me-time itu WAJIB. Walopun hanya duduk 15 menit saja di halaman samping sambil nyruput hot chocolate. Apalagi current condition, dimana mesti ngurus anak2, suami, Mama, rumah tanpa ART.

Me-time itu waktu PAUSE yang bisa kita berikan pada diri sendiri setelah menghadapi rentetan rutinitas harian emak2 yang tiada henti dari pagi hari (terkadang dini hari) sampai malam (terkadang tengah malam).

Waktu jeda untuk evaluasi segala rutinitas tersebut : Sudah dilakukan dengan efektif? Sudah memenuhi kebutuhan anak, suami, orangtua? Sudah mendatangkan keridhoan-Nya? Supaya rutinitas tidak berjalan begituuu saja… Supaya setiap yang kita kerjakan ada ruh-Nya… bernilai ibadah.

Waktu untuk menyalurkan hobby supaya tetep waras, hahaha. Kalau buat saya ini bisa berarti browsing resep. diutak-atik, baking, cooking, motrek2 cakep, & lalu di-upload :D

Waktu untuk merumuskan ide & pemikiran. Kalau buat saya ini berarti = MENULIS. Jadi kalau ada yang sempat heran saya masih bisa menulis 1-2 artikel parenting, well itu sudah sebuah kebutuhan bukan lagi sebuah tugas. I enjoy it :)

Waktu untuk upgrade ilmu: baca buku atau browsing artikel dengan tenang. So called pekerjaan rumah tangga & mengasuh juga butuh profesionalitas, tidak mungkin tanpa ilmu yang up to date.

Waktu untuk rekreasi, refreshing sejenak, karena berada di rumah terus itu juga bisa menimbulkan kepenatan. Keluar sejenak dari pusaran tugas-tugas yang tiada henti, supaya kepala lebih ringan, hati lebih adem. Supaya timbul inspirasi yang barangkali bisa diterapkan di rumah.

Me-time akan berbeda2 untuk setiap emak2… tapi yang penting NIAT-nya, semua kembali kesitu. Jika dengan ber-ME-time para Ibu bisa lebih ikhlas, bersyukur, berbahagia mengapa mesti dipandang sebelah mata? Toh, happy mom=happy children and mm… happy husband too hehe :D

Yang penting tidak berlebihan ketika melakukannya, karena Allah tidak menyukai yang berlebihan. Juga jangan sampai mengejar semua urusan segera selesai setiap harinya demi pengen me-time, jadinya malah tidak enjoy, tidak here & now, terburu2, kemrungsung, jebakan batman deh.

Nah..seperti saat ini, I randomly wrote about something juga adalah me-time, hehe.  Ah, semoga celotehan saya ini ada hikmah yang bisa dipetik ya.

One more thing. Ini salah satu insight yang saya dapat saat belakangan lalu me-time:

If you’re a stay at home mom like me, jangan pernah memandang remeh setiap pekerjaan rumah tangga & pengasuhan yang kita lakukan. Kita tidak pernah tau,amal kita yang mana yg bisa jadi asbab ridho Allah, yang mungkin bisa mengantarkan kita ke surga-Nya. Jadikan setiap rutinitas bermakna, sebagai dzikir, sebagai doa. Sehingga malaikat Raqib yang sibu mencatat kebaikan dan malaikat Atid bahkan tidak sempat buka buku.

Sekian.




Monday, January 11, 2016

My Next Step : Ummu Al-Madrasatul 'Ula


Meltzch vakum.


Kenapa Q? Sayang lho...

Keputusan ini saya ambil dengan penuh pemikiran & pertimbangan.

Vakum-nya bisa jadi sebentar, bisa jadi lama. Lama artinya bertahun2.


Kenapa?
Saya ingin fokus jadi home educator professional untuk Rayyis & adiknya. 

Loh memangnya ga bisa jalan dua2nya?

Walaupun sudah ada asisten, Meltzch masih menyita begitu banyak energi, waktu, dan fokus saya.

Dua tahun ini rasanya pendidikan Rayyis tidak optimal karena Bundanya punya kesibukan lain.


Apa masih tidak bisa diatur lagi?

Saya sudah berusaha sekuat tenaga tetapi yang ada dua amanah ini tidak bisa dijalankan dengan optimal.

Dan jika harus memilih yg mana yg jadi prioritas untuk dioptimalkan. Maka saya memilih ANAK.


Mbak, Rayyis 'kan tumbuh dg baik, sehat, cerdas? Apa yang salah?

Tampaknya begitu, tetapi sebetulnya masih belum memenuhi standar saya.      Itupun masih saya jalani dengan sisa energi. Saya sedih, sering galau, sering menangis sendirian. Rayyis masih sedikit sekali hafalan surat-nya. Rayyis belum rutin ke masjid. Rayyis masih belum menguasai semua huruf hijaiyyah. Rayyis masih belum saya biasakan sholat Subuh. Jadwal hariannya masih banyak yang mengalir saja, kurang sekali yang terencana untuk diedukasikan. Masih banyaaak sekali hal yang harus saya tanamkan terutama soal keimanan, soal kecintaan pada Allah, Rasul, Al-Qur'an. Padahal golden age-nya sudah berlalu setengahnya. Saya harus mengejar banyak ketertinggalan.


Mbak QQ terlalu idealis. Kenapa ga menyerahkan itu ke pihak lain seperti sekolah atau guru?

Memang idealis. Bagi saya, peran saya sebagai pendidik tidak akan saya delegasikan ke siapapun. Ibu itu sekolah pertama, al madrasatul 'ula bagi anak.
Hasil belajar saya saat kuliah, saat bekerja 5 tahun di dunia pendidikan, profesionalitas sebagai pendidik, sebagai pengkaji tentang pengasuhan/parenting paling pantas saya dedikasikan ke anak saya.

Setiap perkataan, jawaban, perilaku orang2 yang terdekat dengan anak akan diserap dengan sangat cepat di bawah sadar. Anak mungkin terlihat baik2 saja. Tetapi jika kita tidak memastikan apa yang diserap itu baik, yang Allah ridhoi, yang menuju ketaqwaan. Maka di masa nanti apa yang ada di bawah sadarnya akan menghambat pertumbuhan dirinya.

Dan di jaman edan ini, rumah adalah tempat paling tepat bagi pendidikan anak. Saya yang mengerti bagaimana karakter anak saya dan metode pembelajaran apa yang tepat. Tanggung jawab pendidikan ada di orang tua, bukan di guru, bukan di sekolah, bukan pihak2 lain.


Tapi Meltzch sudah dikenal. Rugi loh Q.

Melepas Meltzch utk kurun waktu tertentu tidak akan mengurangi apapun secara fundamental pada diri saya. Someday, somehow saya yakin Meltzch akan berkarya lagi.


Friday, December 11, 2015

Kisah Kelahiran Aljibra Yasin (Bagian 2)



Bismillah.

Alhamdulillah diijinkan lagi olehNya melanjutkan bagian 2. Bagian 1 bisa dibaca disini. Sungguh, saya menuliskan ini bukan untuk bersikap jumawa atau merasa paling benar. Saya hanya ingin mengungkap pengalaman subjektif saya (yang bisa jadi salah atau berat sebelah) bahwa wanita hamil & melahirkan itu bukan sosok lemah tetapi justru sosok kuat & mampu. Dan bahwa hamil & melahirkan adalah sebuah starting point yg juga amat menentukan bagaimana kehidupan seorang anak di masa depannya. 

Kenapa sih di bidan?
Gentle birth itu anti sama medis ya? Gentle birth ini primitif bgd ya? 
Begitu kira2 pertanyaan2 yg saya dapat... Atau sebagian pandangan orang tentang GB.

Gentle birth memegang keyakinan bahwa Allah menciptakan wanita sudah sepaket, jika bisa hamil maka bisa melahirkan pula secara alami tanpa intervensi medis. Bukankah dari jaman dulu melahirkan sesuatu yang alami, di rumah pun bisa? 


Dunia modern akhirnya yang membentuk pola pikir: melahirkan
itu "antara hidup dan mati" atau "meregang nyawa". Kalau iya, mungkin manusia udah punah dari dulu ya. Melahirkan akhirnya jadi sesuatu yang patologis, sang Ibu jadi diperlakukan seperti orang sakit yang tidak berdaya. Ditambah film2 modern yang hampir selalu mengidentikkan momen melahirkan dengan teriakan, jeritan, penderitaaan. Tapi apa benar 'harus' begitu? Padahal hormon oksitosin yang mendukung proses persalinan justru produksinya lancar ketika kita rileks, nyaman, & tenang.


Namun gentle birth lagi2 adalah mempersembahkan yang terbaik untuk buah hati kita. Jika dengan mengusahakan normal alami justru membahayakan janin, maka tidak 'gentle' jadinya. Intervensi medis, jika betul2 diperlukan akhirnya juga pilihan yang gentle. 

Dan pada kisah ini, saya adalah seorang ibu hamil dengan resiko rendah: tensi stabil cenderung rendah, gula darah bagus, & dengan riwayat pernah melahirkan bayi dg berat cukup besar. Alhamdulillah prasyarat ini yang juga memungkinkan untuk pilihan ini.

Mengapa saya pilih di bidan? Karena bidanlah yang akan mendampingi kita dari awal sampai akhir persalinan, bukannya dokter. Dan saya ingin didampingi oleh seseorang yang sudah saya percaya, seseorang yang sudah saya kenal lebih dulu, supaya ketika menjalani proses kelahiran saya  merasa aman & nyaman. Pada orang seperti itu saya ingin mempercayakan sebuah momen ajaib datangnya seorang manusia baru ke dunia. Momen istimewa, momen penting yang menentukan. Bukannya di situasi yang sama sekali asing, dengan petugas yang berganti2 sesuai shift, orang2 yang saya belum kenal sama sekali, dan mereka pun tidak kenal saya.

---

Hari-hari penantian saya akan kelahiran si jabang bayi terasa lambat sekali dan betul2 menguji keyakinan. Tetapi di saat yang sama banyak begitu banyak hikmah. Memang betul bahwa hamil & melahirkan sejatinya adalah momen spiritual.

Ibu bidan berkeyakinan bahwa Alyas akan lahir lewat dari HPL karena siklus haid saya yang cukup panjang: 35 hari. Maka dg bervariasinya siklus haid Ibu,hari kelahiran seorang bayi memang seharusnya plus minus 2 minggu dari HPL yang telah dihitung. HPL 'kan Hari Perkiraan Lahir bukan Hari Pasti Lahir ;)

Galau tetap saja menggelayut ketika mulai lewat 1 hari dari HPL. Waktu itu pikiran saya, Rayyis dulu waktu HPL sudah keluar flek. Nah ini tanda2 apapun belum. Walaupun sebetulnya saya merasakan kontraksi Braxton Hicks makin intens dan bagian vagina rasanya mulai melunak. Kalau mau ditunggu memang harus bersabar. Bayi punya waktu sendiri untuk lahir. I have to keep faith on that.


Dokter yang terakhir kami kunjungi alhamdulillah cukup mendukung untuk menunggu bayi lahir sampai 42 minggu. Dengan catatan: jika kondisi ibu bagus & kondisi janin juga bagus: air ketuban masih banyak & jernih, posisi bayi kepala sudah dibawah dan masuk panggul, kesejahteraan janin juga baik. Maka ini yang kami jadikan patokan. Jadi bukannya asal nunggu,kami tetap memastikan semuanya syarat terpenuhi.


Alhamdulillah ketika HPL+2 dicek, kepala janin sudah masuk panggul, air ketuban masih banyak & jernih, denyut jantung janin baik. Pada dua kehamilan ini saya rajin2 konsumsi air kelapa muda supaya air ketuban tetap jernih. Juga konsumsi vitamin C supaya ketuban kuat, mencegah ketuban pecah dini. Walaupun sebagian orang bilang tidak ada manfaatnya, pada 2 kehamilan lewat waktu ini air ketuban saya tetap bagus & ketuban baru pecah setelah buka lengkap.

Salah satu cara untuk menguatkan  keyakinan saya adalah dengan membuka Al-Qur’an. Hari itu saya baca surat Maryam di ayat2 yang menceritakan Ibunda Nabi Isa AS ini melahirkan dibimbing oleh Allah lewat Jibril.

Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih hati…” (Maryam : 24)

Maka makan, minum, & bersenang hatilah engkau… (Maryam : 26)

Selama hari2 penantian kami terus lakukan induksi alami. Satu hal induksi yang saya hampir lupa adalah untuk RILEKS. Atau seperti yang disebutkan diatas : Jangan bersedih, bersenanghatilah. Karena hormone oksitosin kerjanya efektif  ketika kita rileks. Waktu akhirnya kami isi dengan nonton film, jalan2, kulineran dan tentunya memasrahkan diri ke Allah lewat sholat, doa, zikir, & tadarus. Suami terus meyakinkan ketika saya down & menghibur dengan berbagai cara hehe.

Jalan2 pagi di sekitar rumah betul2 saya nikmati sambil foto2 bunga2 di sekitar rumah. Masya Allah.. Cantik2... Bunga ini tadinya 'kan tidak ada. Siapa yang menumbuhkan? Hanya Allah semata. Maka manusia terlahirpun Allah yang akan mengawal. Seperti yang lalu saya baca di Al-Qur’an.




“…Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi…” (Al-Hajj : 5)

Sungguh mudah bagi Allah. Maka yang bisa saya lakukan setelah ikhtiar  maksimal adalah : Pasrah. 

Sampai saat HPL+4 tanda2 belum muncul juga sorenya kami cek lagi ke dokter untuk memastikan semua baik2 saja. Saya masih yakin Alyas sehat karena gerakannya aktif, lebih dari 10 kali rangkaian gerakan seperti yang diwanti2 oleh Bu Bidan. Sampai disana ternyata dokter sudah pergi karena harus mendampingi partus, padahal yang ingin sekali kami ketahui adalah hasil USG yang hanya bisa dilakukan oleh dokter. Karena sudah lewat waktu pemeriksaan yang harus saya jalani adalah CTG selama 20 menit untuk mengetahui intensitas kontraksi, denyut jantung, & gerak janin. Karena kontraksi memang belum kuat dan kebetulan kalau sore Alyas memang tidur jadi minim sekali gerakannya. Hasil CTG menyimpulkan bahwa kondisi janin sudah mengkhawatirkan, harus segera dilahirkan, harus diinduksi. Kesimpulan dokter ini disampaikan via telpon.

Saat itu suami saya tetap bersikeras ingin hasil USG dilihat lebih dulu untuk cek air ketuban dan berpandangan mana mungkin kondisi janin bisa dilihat hanya dengan 20 menit pengukuran. Sedangkan sebelum dan sesudah CTG, Alyas malah aktif dan memenuhi gerak 10 sebagai parameter kesejahteraan janin. Akhirnya para perawat mau memenuhi permintaan kami untuk diprioritaskan USG keesokan paginya.

Di perjalanan pulang saya menangis sesenggukan di mobil (drama mode:ON ;p), kepala saya dipenuhi pikiran2 buruk yang belum terjadi. Disitulah support suami luar biasa saya rasakan. Suami saya ibarat coach saat itu, beliau bilang: “I believe in you… Now you must believe in yourself. Jangan peduli kata orang. Besok kita lihat dulu hasil USG-nya dan apa kata dokter…”

Setiap sholat dan kapanpun ketika luang selalu saya sempatkan  untuk dzikir istighfar dan mendaraskan doa Nabi Yunus ketika di perut ikan paus: Laa illa ha illa anta subhanaka inni kuntu mina dzoolimiin. Termasuk kala itu, karena rasanya saya dalam kesempitan,  ‘kegelapan’ berlapis2. Hanya Allah semata yang mampu memberi jalan keluar.

Setelah sholat maghrib saya coba bicara pada baby Alyas: “Adek sayang, Bunda sudah kepingin sekali ketemu kamu. Pingin cium, pingin peluk, pingin nenenin kamu… Ayah, Mas Rayyis juga sudah ga sabar pingin ketemu adek.  Yuk kita berusaha nak… hari Senin adek lahir ya. Bismillah, ayo kita kerjasama”

Keesokan paginya, dokter sendiri mengakui bahwa CTG tidak bisa benar2 menggambarkan kondisi real janin. Dan Alhamdulillah, setelah dicek di HPL+5 ini air ketuban masih bagus dan tepat setelah USG saya langsung flek, dokter bilang sudah bukaan 1. Lega luar biasa rasanya… Hari itu saya & suami masih jalan2 ke supermarket, juga makan Lotek di Sagan. Semua hal diusahakan supaya saya  benar2 rileks. Kontraksi yang kuat dan teratur memang belum saya rasakan hari itu.

Subuh esok harinya di HPL+6 saya mulai merasakan kontraksi yang kuat. Pagi itu kami sarapan pecel di warung dekat rumah. Saya makan sambil berusaha rileks ketika kontraksi datang. Sampai di rumah pun saya masih mencuci dan beres2 rumah, siangnya masih dengan santai makan durian monthong hehe. Kontraksi semakin kuat &  teratur. Sorenya kami ke bidan dan ketika dicek sudah bukaan 3. Bu Farida memperkirakan dalam beberapa jam lagi adek akan lahir, tetapi kami memilih untuk menunggu di rumah saja.

Sebelum pulang kami masih menyempatkan untuk makan steak di WS. Orang2 tidak akan menyangka kalau saya sebenernya sedang merem melek merasakan kontraksi, hehe. Setelah sampai di rumah, kontraksi saya rasakan semakin intens. Pelajaran yg saya ambil dari proses kelahiran Rayyis : ketika kontraksi datang jangan dilawan/ditahan tetapi TERIMA –IKUTI-BIARKAN. Jadi yang saya lakukan  ketika kontraksi datang adalah berdiri sambil berpegangan pada kursi dan  sedikit menggoyangkan badan mengikuti ritme gelombang kontraksi, sambil dalam hati mengucap RILEKS. Kemudian saat jeda, saya duduk di sofa istirahat rileks untuk. Terasa sekali kepala adek semakin turun ketika kontraksi berlangsung.

Dari jam 20.00-23.00 begitu terus yang saya lakukan. Mulai jam 22.00 saya coba menghitung kontraksi & jedanya dengan apps Kontraksi Nyaman dari Bidan Kita dan sekitar jam 22.30 muncul pop up peringatan untuk segera pergi ke rumah sakit/bidan terdekat. Kontraksi sudah setiap 5 menit selama 30-50 detik. Jam 23.00 saya membangunkan suami,  setelah itu kami langsung meluncur ke rumah Bu Farida. Sampai disana sekitar jam 24.00 kurang diperiksa sudah bukaan 8. Alhamdulillah…

Jam 01.00 dini hari pembukaan sudah lengkap dan ketuban belum pecah juga. Sekitar jam 01.30 ketuban pecah spontan. Saat itu sebetulnya  pertama kalinya saya menjalani proses persalinan di tempat tidur, jadi saya perlu adaptasi lagi. Bu Farida bilang sudah waktunya saya boleh mengejan. Sempat dengan posisi berjongkok tapi adek belum mau turun. Justru ketika posisi setengah duduk adek malah bisa perlahan2 maju. Saya merasakan luar biasa ngos2an dan mandi keringat. Suami terus disamping saya memegang tangan saya dan ikut membantu saya bangun ketika kontraksi datang sambil membimbing saya berdzikir. Di sela2 mengejan saya sempat istirahat sebentar2 untuk sekedar tiduran, minum, & makan kurma Ajwa. Bu Farida & asistennya dengan lembut & telaten terus membimbing & menyemangati.

Jam 2.30 kepala adek mulai kelihatan. “Wah rambutnya tebel lho, Mbak. Lucu banget…”  Bu Farida menyemangati. Saya niatkan dalam hati dan bicara pada Alyas : Dek, jam 3 lahir ya. Cerita selanjutnya saya terus mengejan sambil mengucap “Ya Allah!” dan Aljibra Yasin – pun akhirnya lahir jua jam 03.03.  Alhamdulillah, luar biasa leganya. Alyas langsung diberikan pada saya untuk IMD dan saya benar2 menangis sejadi2nya. Tangis syukur sudah melewati proses agak panjang dan mendebarkan, berujung indah memeluk tubuh kecil Alyas. Duh, ngetiknya aja pengen mewek deh.

Alyas lahir dengan posisi badan menghadap ke atas, posisi yang sebetulnya kurang optimal. Dengan berat lumayan besar 3.5 kg dan panjang 52 cm, proses mengejannya memang jadi agak lama. Saya pum merasakan perbedaannya, dengan waterbirth memang lebih nyaman daripada bedbirth. Namun Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah saya tetap bisa tenang. Bu Farida sampai bilang, selama praktek di kliniknya hanya melihat 2 pasien yang bisa tenang dari awal sampai akhir, salah satunya saya. Biasanya pembukaan 4 ke atas sudah mulai panik. Asisten bidannya sampai tanya, amalan apa yang saya lakukan ketika hamil, hehe. Tidak ada yang istimewa, semua atas kuasaNya.


Alhamdulillah… semua saya syukuri, semua dari Allah. Proses hamil & melahirkan Alyas benar2 membuat saya bertekad untuk memperbaiki diri. Lebih mendekatkan diri pada Allah, lebih sabar, lebih tangguh,  lebih cerdas lagi mengasuh anak2. 

Dear Alyas, you're more than just a gift, you're a miracle from Allah. 

Thank you for changing me. Bunda loves you so much :*




Saturday, October 31, 2015

Kisah Kelahiran Aljibra Yasin (Part 1)



Alhamdulillah... Allah beri kesempatan untuk menuliskan ini.

Perjalanan menuju kelahiran Alyas mendebarkan buat saya. Masya Allah, looking back at the moments, saya cuma bisa ambil kesimpulan bahwa:

Allah has plans for us. Rencana itu sudah tertulis rapi sempurna tanpa cela di Lauh Mahfuzh. Seorang hamba hanya perlu ikhtiar & pasrah. Betul2 pasrah...

Belajar dari bagaimana proses kelahiran Rayyis sedikit banyak efeknya ke perkembangannya yg menakjubkan. Tanpa ragu saya & suami tetap mengikhtiarkan #gentlebirth untuk Alyas.


Buat kami #gentlebirth artinya:

1. Persiapan yg serius termasuk induksi alami
2. Suasana senyaman mungkin, sehomy mungkin
3. Minim intervensi medis, selama kondisi ibu & janin baik. Salah satunya berarti menunggu kelahiran walaupun lewat dari HPL.
4. Penolong persalinan yg ramah, lembut, & profesional
5. Ibu bebas bergerak, bebas makan & minum
6. Setelah lahir bayi langsung IMD ke Ibu (skin to skin contact) & itu tidak dipisahkan dari Ibunya kecuali benar2 diperlukan (rooming in)

Sedikit panik ketika tahu bahwa karena satu & lain hal, Alyas tidak bisa lahir di tempat yang sama dengan kakaknya dulu, Bidan Kita. Namun kami tetap ikut kelas hypnobirthing untuk refresh lagi materi yang dulu. Alhamdulillah luar biasa perkembangan ilmu yang kami dapat. Mbak Yesie meyakinkan kami bahwa meski bukan beliau yang menolong persalinan, Allah akan beri jalan yang lain. Yang penting kita sudah mempersiapkan diri jadi dimanapun nanti tetap akan gentle.


Mbak Yesie juga menawarkan solusi ketika bersalin nanti didampingi doula yang adalah tim bidan dari Bidan Kita. Doula ini akan mengupayakan kondisi Ibu se-#gentle mungkin sampai pembukaan sudah hampir lengkap dan ketika di provider entah RS atau bidan tinggal lahir aja. Oke, kami ambil birthplan dg doula ini.


HPL Baby Al tanggal 5 Oktober 2015, namun saya sudah closed order Meltzch mulai 1 September. Saya ingin fokus persiapan. Apa saja?

1. Diet karbo lagi. Berat janin naik dg cepat sama seperti Rayyis dulu, saya harus mengontrolnya dg mengganti nasi putih dg nasi merah, menghindari gula pasir & terigu, banyak sayur & buah. 
2. Prenatal Yoga & jalan pagi
3. Latihan relaksasi & nafas perut
4. Latihan menghadapi kontraksi dg es
5. Pijat perineum (ini suami yg pijet)
6. Banyak berdoa, sholat malam, zikir, tadarus

Saya tetap beraktivitas seperti biasa: memasak, mengurus Rayyis, bersih2. Banyak aktivitas yg diimbangi dg istirahat tentunya untuk jaga ritme supaya nanti ketika persalinan stamina tetap bagus.


Kemudian yang masih menjadi PR adalah menemukan provider persalinan yang pas. Kehamilan Alyas ini rekor. Kami pindah2 sampai ke 3 dokter (3 rumah sakit) namun belum juga menemukan yang pas. Galau pasti, cuma bisa berdoa terus ke Allah. Tawakkal, yakin Allah akan mengurus semua urusan kami. 


Sampai menjelang idul Adha, tiba2 saya kepikiran 1 bidan yang pernah diceritakan oleh seorang sahabat kami. Dari ceritanya, saya punya feeling aja kalo bidan ini beda. Malam hari idul adha kami pun datang ke klinik beliau yg sbetulnya dekat sekali dengan rumah sahabat kami tadi di daerah Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Saat itu saya datang dengan lelah & sedikit pesimisme, tetapi Masya Allah setelah mengobrol dengan Bu Farida optimisme terbit kembali seterang2nya. Saya tidak menyangka di klinik di tengah kampung ini, menemukan sosok bidan yang juga memegang nilai2 gentle birth. Begitu ramah, santun, & rendah hati bu bidan ini yang juga seorang dosen & sedang kuliah doktor menjawab pertanyaan kami satu per satu dg baik. Alhamdulillah, we had decided baby Alyas akan lahir dibantu beliau saja.


Menjelang HPL kami mulai usahakan untuk induksi alami:

1. Akupresur dibantu suami
2. Moksa di titik2 akupuntur
3. Konsumsi makanan yg merangsang kontraksi: kiwi, nanas, & ehm... Durian monthong only for me. Hehe.
4. Jalan pagi lebih jauh lagi dari biasanya
5. Pacaran & romantis2an sm suami. Ini ndak usah diceritakan sejauh apa. Hehe. But trust me it always work. Mau pas Rayyis ataupun pas Alyas :D
6. Ajak ngobrol

Tik tok tik tok... Waktu berjalan lambat sekali rasanya. Sampai HPL lewat 1 hari rasanya saya mulai panik. 


Bersambung...

Thursday, August 6, 2015

Mengkhidmati: Ummu Al-Madrasatul Ula

Sore itu, saat menyaksikan video Fajar ini air mata tak kuasa jatuh. Trenyuh menyaksikan keluguan cinta seorang anak pada Al-Qur'an...
Malu karena anak ini sudah hafal 30 Juz sedang diri ini 3 juz saja tak kunjung kelar...
Dan terutama...
Merasa bersalah sekali pada Rayyis...


Yang digumamkan anak ini ayat-ayat Allah...

Sedang apa yang digumamkan Rayyis?

Lagu-lagu anak2 yang juga bukan lagu islami... Berbahasa Inggris, bahkan berbahasa Jawa.. Dengan kalimat yang jelas & benar...

A, B, C, D... In English...


Orang tua lain mungkin bangga... Tapi saya justru merasa ini benar2 salah... Tidak seharusnya...

Pukulan berat rasanya... 
Yang sebetulnya sudah Allah layangkan berkali2... 

Sampai dengan setengah perjalanan Golden Age-nya Rayyis baru hafal beberapa surat... 
Baru hafal beberapa doa harian... 
Sudah mulai hilang hafalan hijaiyyah-nya...

Dan sedikit kemajuan itupun bisa jadi lebih karena Ustadzah2nya di sekolah, bukan karena ketelatenan Bunda-nya yang lulusan psikologi... 
Yang beberapa tahun mendalami pendidikan anak... 
Yang katanya concern dengan Islamic Parenting...

Tapi apa yang sudah dilakukan Bunda-nya? Kemana aja Bunda-nya ini yang harusnya jadi Al Madrasatul Ula, Sekolah Pertama anak?

Bukankah mendamba anak yang cinta Allah, Rasul, dan Al-Qur'an?
Tapi apa effort yang sudah dilakukan...?

Mau jawab apa di hadapan Allah nanti?

Maafkan ya Nak. 
Maafkan Bundamu...

Bunda ternyata belum benar2 bersungguh2 saat menyatakan kamu karir utama Bunda... 

For that reason, 
i'm willing to let go my any other career. And focus, teaching you & your siblings professionally...

Bismillahirrohmaanirrohiim.


"Ibu adalah sekolah pertama & utama. Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik..."