...
”Emang kenapa Q?Udah byasa aja gitu ya?”
”Ya, klo sayang, masih mb, masih bgd... Cuma gini lho, aq byasa aja, ga berharap apa-apa. Klo ktemu gini, apa akan berpengaruh sm masa depan-ku?Apa akan ada yang diputuskan?Ga juga kan?”
”Hmm, ya,ya...”
”Dan, gini d mb, oklah, klo misalnya iya dya jadi suamiku, tapi bisa aja kan, trus dya tiba” meninggal?Intinya, apapun bisa terjadi, yang bisa membuat qta ga bareng-bareng lagi...Jadi gimanapun, aq harus ngiklasin dya kn,Mb?”
”Btul, btul..”
”Aq harus mengikhlaskan, karena bukan dya tujuanku, cita-citaku surga...Intinya kebahagiaanku, ktenanganku ga bergantung pada dya, tapi sama Allah...”
Thanx to Erich Fromm, Jalaluddin Rahmat, Jalaluddin Rumi, Paulo Coelho, &…
seorang pria yang saya temui hari ini, yang mengenalkan tentang makna mencintai yang tidak egois pada saya, saya yang kala itu begitu ‘fakir’ sehingga hanya berharap untuk dicintai...
0 comments:
Post a Comment