Thursday, July 30, 2009

How Sweet...

”Eh, bentar, Bu. Kagok. Tadi bola mana?” saya cari channel, ”Kagok, bentar lagi!” saya bilang begitu, menyebabkan dia menghidupkan televisi lagi.Televisi yang tadi sudah mati itu seolah-olah dia punya mukjizat bisa menghidupkan yang sudah mati.

Itu sama seperti kalau saya bilang bahwa kehadiran dia di dalam hidup saya ini sudah bikin mata saya bisa lihat. Bisa lihat kebesaran Tuhan yang maha, seolah-olah dengan begitu dia punya mukjizat bisa bikin sembuh orang buta. Dan jika saya senang, senang punya istri macam dia. Saya bilang bahwa itu karena dia bijaksana. Dia sudah mengolah saya, saya yang tanah ini, menjadi seolah-olah burung. Burung yang terbang ke angkasa, menjadi subjek original yang bebas sehingga saya tenteram berkarya dan harmoni.

Drunken Mama, halaman 89, oleh Pidi Baiq

...

Uwh...

How sweet...^^

0 comments:

Post a Comment